Filsafat Ketakjuban
Karya Ismu
Bismillah, alhamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du.
Sebelum mulai, biar kujelaskan musthalah atau terma yang kugunakan untuk judul ini. Filsafat ketakjuban bukanlah filsafat mengenai ketakjuban. Sebaliknya, ia adalah filsafat yang dibangun di atas ketakjuban.
Kalian sudah tahu, ‘filsafat’ adalah istilah yang dibentuk dari 2 kata yunani kuno; philo yang berarti cinta dan sophia yang berarti kebijaksanaan. Dalam bahasa arab, kebijaksanaan disebut al-hikmah. Jadi, sederhananya filsafat berarti cinta pada kebijaksanaan. Kalau begitu, filsafat ketakjuban berarti cinta pada kebijaksanaan yang dibangun di atas ketakjuban kepadanya.
Definisi modern mengartikan filsafat sebagai pemikiran yang bersifat rasional, sistematis, dan kritis. Kalau begitu, lantas filsafat timur dan filsafat Islam mau ditaruh mana? Bukankah kebanyakan filsafat timur tidak sistematis serta tidak terlalu kritis? Begitu juga filsafat Islam, bukankah sebagian besar preposisi dan premisnya ditarik dari wahyu yang bersifat suprarasional dan kontennya membincangkan tema yang melampaui hal fisik (metafisik)?
Jadi, daripada ribet, memang paling enak menggunakan artian klasik saja. ‘Cinta pada kebijaksanaan‘ lebih mampu menghimpun makna yang seluas-luasnya. Lebih ngena dibandingkan definisi modern yang terlalu sempit dan kadang mengaburkan cerita.
Pernyataan Immanuel Kant di batu nisannya berikut bagiku merefleksikan filsafat ketakjuban. Ia katakan, “Dua hal yang memenuhi pikiranku dengan keheranan dan ketakjuban yang makin besar, ketika semakin sering dan semakin kuat aku merenungkannya : langit berbintang di atasku dan hukum moral dalam diriku.”
2 hal yang menakjubkan Kant tersebut di Quran disebut “al-aayaat fi l-aafaaq wa fi l-anfus”.
Pernyataan lain yang menurutku juga merefleksikan filsafat ketakjuban datang dari Romantisis Inggris, Coleridge. Ia katakan, “Bagaimana jika kamu tertidur? Dan bagaimana jika dalam tidurmu kamu bermimpi? Dan bagaimana jika dalam mimpimu kamu datang ke surga. Di sana kamu memetik sekuntum bunga yang aneh lagi indah. Dan bagaimana jika ketika kamu terbangun, kamu dapati bunga tersebut ada di tanganmu?”
Memang kebijaksanaan lebih pantas untuk menciptakan ketakjuban di dalam dada anak adam. Kebijaksanaan yang dalam Quran disebut hikmah, adalah pengetahuan yang layak atas realitas. Artinya, seorang yang memiliki hikmah memahami tatanan wujud yang ia berada, menjadi bagian dan menjalani kehidupan di dalamnya. Dan termasuk hikmah juga, seseorang bertindak secara layak dalam kehidupannya di bawah tuntunan pengetahuan tersebut. Apa itu tidak menakjubkan? Maka dalam Quran, orang yang diberi hikmah dianggap telah diberi kebaikan yang banyak (faman yu’ta l-hikmata faqad uutiya khairan katsiran).
Dan jalan menuju hikmah kebijaksanaan memang beragam. Tapi jika motivasi seseorang lurus dalam mencarinya, ia akan sampai ke tujuan. Hanya, terkadang realitas yang sama terungkap dalam bahasa yang berbeda. Hal itu hanyalah karena perbedaan kacamata saja. Maka, jangan bertengkar.
Dalam proses pencarian kebijaksanaan, selama masih bisa diakomodir, masih dalam kerangka ikhtilaf tanawwu’ kukatakan, “Bolehlah berbeda, tapi ya jangan berselisih. Kalaupun harus berselisih, gak usahlah bertengkar. Kalau bertengkar, bertengkarlah sebagai saudara. Toh masih dalam ketakjuban yang sama.”
Maka praktik berikut, tidak ubahnya kerja eksistensial yang sama : pelaku dzikr yang hanyut dalam keindahan pengenalan terhadap asma’ wa shifat-Nya, penyair yang merangkai bait-bait kata kekaguman terhadap panorama di hadapannya, serta scientist yang melebur dalam keterpukauan terhadap detail presisi benda alam yang diamatinya.
Wallahua’lam wa huwa al-musta’an...
Note ini adalah bentuk apresiasiku sebagai seorang muslim terhadap sebuah novel lama yang begitu indah berkisah, ‘Dunia Sophie’. Ditulis malam selasa, dalam alunan takbir yang terdengar lembut dari seberang sungai sana. Ketika tahun ini, mayoritas kami berbeda dalam menentukan hari raya Iedul Adha 10 Dzulhijah 1431 H.